Bimo Menantuku Yang Nakal

Pulangnya para TKI dari malaysia mengingatkanku akan pengalaman seksku di kapal laut. Cerita seks yang tidak bisa kuduga dan hubungan itu terus bersemi sampai saat ini.

Melihat berita di TV tentang pulangnya para TKI dari Malaysia dengan kapal-kapal besar, aku jadi teringat kisahku yang juga terjadi di kapal besar semacam itu. Sekitar lima tahun lalu aku mendapat telegram dari anak perempuanku y ang hendak melahirkan anak pertamanya sebulan lagi. Sudah hampir setahun ia ikut suaminya yang kerja di Irian Jaya dan ia sangat berharap aku dapat menungguinya saat dia melahirkan. Suaminya akan menjemputku dalam waktu 1-2 minggu itu setelah selesai urusan kantornya. Benar saja, dua minggu kemudian menantuku, Bimo, datang. Ia sedang mengurus pekerjaan di Jawa Timur sekitar dua minggu. Setelah selesai, ia menjemputku dan masih sempat menginap selama tiga hari sebelum kapal berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak.

Hari H pun tiba. Pagi-pagi diantar anak bungsuku kami berangkat ke Tanjung Perak yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kota kami. Sejak suamiku meninggal memang aku jadi sering pergi berkunjung ke anak-anak yang tersebar di beberapa kota. Untuk anakku yang di Irian Jaya ini merupakan kunjunganku yang pertama, maklum jaraknya jauh sekali. Menurut menantuku, lama perjalanan laut sampai 3 hari 2 malam.

Sampai di pelabuhan Bimo segera mengurus tiket yang sudah dipesannya. Kemudian kami naik ke kapal besar itu. Penumpang kapal yang ribuan jumlahnya membuat para pengantar tidak bisa ikut naik, termasuk anak bungsuku. Baru sekali itu aku naik kapal laut. Sungguh mengejutkan karena penumpangnya ribuan orang dan sebagian hanya duduk di dek atau lorong-lorong kapal. Sebagian lagi menempati bangsal seperti kamar asrama dengan tempat tidur raksasa yang muat ratusan orang. Kuikuti langkah Bimo melewati mereka, bahkan terpaksa melangkahi beberapa orang, hingga sampai di bagian ujung kapal yang merupakan deretan kamar. Hanya sekitar 1 0 kamar, itupun ukurannya Cuma sekitar 3×3 meter. Ini kuketahui setelah Bimo membuka pintu kamar dan kami memasukinya.

‘Ini kamar kita, bu,’ kata Bimo sambil masuk lalu menaruh seluruh bawaan kami. Dengan canggung aku masuk. Yang nampak memenuhi hampir separuh ruangan adalah ranjang kayu yang muat dua orang serta meja kecil pendek. Perlahan aku duduk di ranjang dan menyibak gorden di atasnya. Nampak air laut di kaca bulat dan tebal itu. Iiih ternyata kami berada di bawah permukaan laut.

‘Maaf, bu, harga tiket kamar di atas mahal sekali, terpaksa saya pilih yang di sini,’ ujar Bimo merasakan kegalauanku.

‘Ah, tak apa-apa Bim, daripada harus tidur di dek kapal,’ sahutku.

‘Sebaiknya kita sekarang mandi dulu saja, bu. Kalau terlambat nanti antrinya lama sekali.’

Benar kata Bimo, sewaktu sampai di deretan kamar mandi (ada 6) sudah ada antrian sekitar 2-3 orang di setiap kamar mandi. Mandi pun harus buru-buru dan biar praktis aku langsung pakai daster saja.

Sekitar jam 2 siang kapal mulai bergerak. Setelah puas melihat-lihat suasana kapal yang dijejali ribuan orang, persis seperti pengungsi, akupun kembali ke kamar. Bimo masuk ke kamar sambil membawa beberapa makanan dan minuman. Sekitar jam 5 sore terdengar bel dibunyikan oleh awak kapal.

‘Itu pertanda kita harus antri makan malam, bu,’ jelas Bimo. Dan sekali lagi kami harus berbaris antri mengambil nasi dengan lauk sayur dan sedikit ikan laut. Nampan, piring dan sendok aluminium yang kami pakai mengingatkanku akan para napi di penjara. Ternyata beginilah pelayanan kapal laut kita. Selewat jam 7 malam makanan tidak disediakan lagi. Membayangkan bagaimana ribuan nampan, piring dan sendok itu dicuci dengan air yang sangat terbatas aku jadi sulit menelan makanan yang sudah di mulut.

Bimo mengembalikan peralatan makan sementara aku ke kamar mandi untuk cuci dan pipis. Cape sekali ha ri itu dan aku perlu segera tidur malam itu. Kapal yang bergoyang-goyang karena ombak besar membuat kepalaku pening.

‘Silahkan ibu tidur dulu. Saya masih perlu menyiapkan laporan untuk kantor,’ kata Bimo sambil membuka berkas-berkasnya di meja kecil sambil duduk di lantai kapal yang berkarpet. Aku pun naik ke ranjang mengambil posisi mepet ke dinding kapal. Sekilas terlintas di benakku, Aku, janda usia 45 tahun, tidur seranjang dengan menantuku. Tapi segera kutepis mengingat ini dalam keadaan terpaksa dan sopan santun Bimo selama ini. Untuk menyuruhnya tidur di lantai kapal aku tak tega.

Entah berapa lama terlelap, aku terbangun karena merasa ada sesuatu yang memelukku. Saat kubuka mata, kamar gelap sekali, sementara posisi tubuhku sudah telentang. Segera aku menduga Bimo mau berbuat yang tidak senonoh padaku dan aku siap berontak. Tapi beberapa saat kurasakan tidak ada gerakan dari tubuhnya dan malah terdengar dengkur halusnya. Ternyata Bimo tertidur.

Bagaimana ini? Apa aku harus menyingkirkan tangannya dari atas perut dan dadaku (yang tak berbeha seperti kebiasaanku kalau tidur) serta kakinya yang menindih paha kananku. Aku tak tega membangunkannya dan jadi serba salah dengan posisi yang demikian itu. Aku tak bisa menyalahkannya karena ia tertidur dan ranjang kami termasuk berukuran pas-pasan untuk dua orang. Akhirnya aku pilih diam saja dan bertahan pada posisi itu meski dari gesekan kulit akhirnya kuketahui kalau Bimo saat itu bertelanjang dada. Dan persentuhan paha kami juga menandakan bahwa Bimo tidak memakai celana panjang. Mungkin dia hanya memakai celana pendek atau justru celana dalam saja, pikirku. Aku dag -dig-dug membayangkan dia tidur telanjang.

Kupejamkan mata dan berusaha tidur lagi sambil berharap Bimo melepas pelukannya sehingga aku bisa berguling ke dinding kapal memunggunginya. Namun sampai terkantuk-kantuk harapanku tak terkabul. Sampai aku terlelap lagi tangan dan tubuh kekar Bimo masih menelangkupi dadaku dan pahanya menindih pahaku. Mungkin ia tengah membayangkan tidur dengan istrinya, pikirku. Aku semakin bisa memaklumi dan tidak begitu peduli lagi dengan posisi tidur kami.

Beberapa lama kemudian, aku menggeliat dan terbangun lagi. Kini tubuh kekar Bimo ternyata sudah ada di atasku, menindihku. Bahkan terasa pahaku dikangkangkannya sehingga celana dalamnya tepat di atas celana dalamku karena dasterku sudah tertarik ke atas. Tonjolan penisnya yang tegang terasa sekali. Remasan tangannya di payudaraku, meski masih tertutup daster, membuatku meronta.

Read More »

Birahi Ibu Berjilbab Di Atas Kapal [4]

Sroorkkk.. cororkk setelah setengah jam.. saat-saat aku mo keluar… langsung kuminta Lia untuk berbalik dan kutusukan kontolku lewat belakang (gaya doggy).

“Ooougghhhh enak sekali memekmu Lia.” sahutku.

Blesss blesss..

“Mass enakk..”

Kupompa kontolku secara cepat dan akhirnya..

“Lia kita keluarin sama-sama yah”

“Iiiiiiyyya mass ohhhuuu sssss..hhhh massss aaaaaaaaaahhhh..”

Kuteriak agak keras dan akhirnya air pejuku muntah juga kedalam memeknya.

“Ooh mas enak sekali Lia lemas neh” sahutnya.

Setelah beberapa menit… Lia mohon pamit kembali ke kamarnya karena sudah tinggalin anaknya 3 jam tuh.. akhirnya aku juga tidur.

Keesokan harinya kita berdua terlambat bangun pagi.. dan aku pikir lebih baik bersiap-siap aja untuk beberapa jam akan sandar di pelabuhan Tanjung Priok saat aku lagi berbenah-benah. Kudengar ketokan di pintu dan suaranya Lia terdengar dari luar sana,

“Mas.. udah siap-siap yah..?” tanyanya.

“Iya neh..” sambil kulirik dia membawa anaknya.

“Ayo masuk dulu..” jawabku.

“Lia udah siapin barang-barangnya yah?” tanyaku.

“Ya udahlah mas, maka itu kita kesini mo memastikan, siapa tau mas masih belum bangun gara-gara semalam” bisiknya di telingaku.

“Hhhmmm Lia kamu itu makin menggemaskan aja” sambil kucolek pantatnya.

“Wow kelihatannya dia nggak pake celana dalam neh.” ucapku dalam hati aku jadi pengen buktiin neh tapi bagaimana yach? Soalnya dia bersama anaknya neh dan sebentar lagi kira-kira 2 jam-an udah mo nyampe di pelabuhan neh waaahhh. Aku jadi tambah panas dingin neh kulihat lia menghempaskan pantatnya di tempat tidurku anaknya juga disebelahnya.

“Lia kamu kok tambah cantik yah, memakai jilbab dan terusan (longdress) itu” ujarku.

“Aahh mas ini pasti kalo ngebilang itu ada maunya yach” selidiknya sambil senyum.

“Tau aja” sahutku.

Sambil kubereskan pakaianku dan kumasukin ke dalam tas, kulihat anaknya udah mulai rewel neh ndak tau kenapa yah. Kali aja udah mulai ngantuk atau udah tau yah mamanya mo pikiran ngeres mama.

“Ari kembali ke kamar dulu yach” tanya anaknya.

“Mo ngapain Ri?” tanya mamanya.

“Mo bobo bentaran aja ngantuk neh”

“Oohh ya udah kalo gitu, ntar lagi mama nyusul khan tinggal sejam lagi kita nyampe Ari bobo dulu yah ntar mama bangunin” sahut mamanya.

Langsung serta merta Ari pamit ke kamarnya dan kututup pintu kamarku. Tanpa menunggu lama lagi kuangkat longdressnya.

“Ooohhhh.. mass mo ngapain?” pekik Lia.

Hhhmmmmppp betul yang kuduga Lia tidak pake celana dalam pasti udah mo ngerasain kontolku lagi yah langsung kujilati saja memeknya.

Read More »

Birahi Ibu Berjilbab Di Atas Kapal [3]

Kupompa kontolku.

Srooortkkk.. sluururppp sreet bellsss..

“Uufghhh masss enak sekali… hmmmm”

“Iya yyahh oohhh.. Lia ayookk kita keluarin bersama-sama”

“Oooggghh mass… aku mo keluarrrrr oogghhrrr ahhhhh…”

Langsung badannya Lia jatuh ke tempat tidur sambil tetap menungging membelakangi aku dan tanpa menunggu lagi kutusukkan kontolku lagi .

Bleessssssssss…

“Ooohhhh masss enakkk… cepattttaaannn iiiiiyya Lia..”

“Oooohh mas hampir keluar neh…”

“Ooghhhs… oohhhh Liaa… siiappp…”

Croootttttt… croottt… crooott… ughhh…

Tumpah ruah air maniku kedalam memeknya lagi tak lama air maniku keluar. So anaknya juga udah mulai bangun dan kita langsung bereskan diri dan menuju ruang makan.

Selama empat hari kita selalu bercinta, namun Lia tidak pernah telanjang alias jilbab dan bajunya masih menempel di badan dan aku pun tak mempermasalahkan itu yang penting memeknya yang ranum hhmmmm hingga suatu malam hari ke enam dan rencananya besok kapal kita sudah nyampe di Jakarta aku sedang santai sambil tiduran di dalam kamar hanya mengenakan celana pendek.

Tok tok kudengar ketukan pintu kamarku,

“Siapa yah?” tanyaku.

“Ini Lia mas” jawab suara diluar.

Serta merta aku berdiri dan membuka pintu hmmm.. Kulihat Lia hanya mengenakan daster panjang tanpa mengenakan jilbab.

Oohhhh.. cantiknya dan putih sekali lehernya itu semenit aku terpana di depan pintu.

“Mas boleh aku masuk?” tanyanya langsung.

Aku tersentak kaget.

“Ooh iya.. ya silahkan Lia” sahutku.

“Ada apa ne Lia, malam-malam kesini?” tanyaku.

“Ndak neh aku mo nanya aja.. besok khan kita udah nyampe Jakarta, trus mas langsung pulang yah” tanyanya.

“Iya sih soalnya lusa udah masuk ngantor” terangku kepadanya.

“Ooooohh.. ya udah deh Lia langsung pulang ke kampung aja dech..” jawabnya.

Setelah kita ngobrol panjang lebar. Lia pamitan mo kembali ke kamarnya, dikarnakan jam udah menunjukan pukul 9 malam, namun disaat dia mo berdiri, kupegang tangannya dan kuciumi sambil kujilati telapak tangannya sampai ke pangkal lengannya.

“Ooouuhhh mas geli ahh”

Tanpa kujawab kujilati lehernya yang putih mulus itu.

Sluurrppp.. slurppp shhhh ssss.

“Ooohh mas sluurrp.”

Kutelusuri lehernya yang jenjang kadang kugigit-gigit kecil.

“Ooowhh massss ohhh..”

“Lia aku ingin bersamamu malam ini” ujarku dia diam sambil menundukkan kepalanya.

Read More »

Birahi Ibu Berjilbab Di Atas Kapal [2]

Kubuka celana panjang dan sekalian celana dalamku.

“Uupps besar sekali mas punyamu” sahutnya.

“Silahkan lia apa yang kamu inginkan” ujarku.

Lia langsung menyodorkan mulutnya dan menghisap kontolku dengan mahirnya.

“Uugghhhhff Lia kamu pintar juga yach sama suamimu juga sering beginian yach?”

“Mmmrmmmrpp.. nggak masss jarang kok”

Setelah sekian menit aku langsung memberhentikan isapannya pada kontolku dan langsung menaikkan dasternya tanpa melepas jilbabnya dan Lia membuka kedua pahanya menanti kontolku memasuki dirinya.

“Ayok mas.. cepatan”

“Oohhggghh”

Ppelan-pelan kutempelkan kontolku di permukaan memeknya.

“Ooufghhhh”

Baru aja kepala kontolku masuk udah terasa nikmat.

“Dooorong mas enaeekkk mass oughhhh”

Kudorong pelan-pelan masuk dan

Bleeeeeeeeeesss..

“Uughhf”

Aakhirnya masuk semua kontolku kedalam memeknya. Kudiami beberapa saat dan mulailah kupompa kontolku di dalam memeknya.

Read More »

Birahi Ibu Berjilbab Di Atas Kapal [1]

Ufhhh.. Akhirnya usai sudah kegiatan yang menjemukan selama 2 minggu di sini dan aku mo balik ke Jakarta untuk refresh neh oh iya namaku Andi umur 30 tahun sekarang aku bekerja di perusahaan swasta, ciri-ciri tubuhkan yahh.. untuk postur Indonesia udah cukup di perhitungkan neh.. heheheh

Besok aku mo pulang ke Jakarta setelah mengikuti kegiatan dari Perusahaan di Kota ini di ujung Timur Indonesia neh aku mo naik kapal laut aja dech karena selama ini kalau bepergian aku belum pernah naik kapal laut so akan aku coba aja dech walaupun itu di tempuh dng lama perjalanan 1 minggu wahhhh pusing juga neh setelah membeli Tiket kapal laut kelas 1 aku langsung berkemas-kemas untuk persiapan besoknya berangkat.

Tiba saatnya aku menuju pelabuhan setelah segala macam proses pemeriksaan tiket dan bercampur aduk dengan para penumpang. So akhirnya aku naik dan masuk ke kamarku yang kelas 1 dan tentunya kamar kelas 1 aku yang sendiri menempatinya langsung aku bergegas membersihkan diri (mandi neh..) setelah mandi diatas aku berjalan-jalan di Dek kapal sambil menunggu sebentar lagi kapal akan berangkat.

“Wahhh.. kalo selama 1 minggu diatas kapal tidak ada yang bisa bikin buat seger jadi tambah pusing neh.” ujarku di dalam hati.

Setelah melihat-lihat sekeling kapal dan akhirnya aku berdiri di pinggiran kapal sambil melihat kebawah siapa tau aja ada yang bisa nemanin aku selama seminggu ini hehehhe..

Mataku tertuju pada seorang ibu muda berjilbab kira-kira berumur 27 tahunan bersama anaknya yang kira-kira 5 tahunanlah dan sebelahnya di antar seorang lelaki yang kemudian mencium kening ibu itu dan anaknya setelah itu mereka berdua naik ke kapal dan tak lama kemudian kapal berangkat meninggalkan pelabuhan dan lelaki itu melambaikan tangganya kepada ibu dan anaknya setelah kapal menjauh dari pelabuhan, hmmm aku mulai mendekati ibu muda itu dan mulai berkenalan.

“Namaku Andi, aku tujuan Jakarta” ujarku.

Read More »